PJ Donk PJ
Hari demi hari berlalu. UTS pun ada
di depan mata. Fokus ku ada di UTS demi tercapainya cita-cita yang gemilang.
Demi tercapainya senyuman indah di bibir ayah dan bundaku. Semua masalah aku
alihkan sementara, aku buang jauh-jauh ke lautan tanpa batas.
Gemuruh siswa-siswi meneriakan
kelegaannya setelah menyelesaikan soal-soal yang menyeram kan bak seorang
polisi menggerebek kelompok penged bahan-bahan haram. Siang itu, setelah ujian
hari pertama selesai, aku diminta untuk ikut latihan untuk persiapan festival.
Entah mengapa suasana dalam latihan kali ini terasa sangat berbeda, jauh lebih
berbeda dari sebelumnya ketika ke-tiga personil d’maises mulai menyanyikan
lagu-lagu cinta yang seakan menyindir hubungan ku dengan vian. Yah wajarlah
sindirannya musisi lewat lagu. *Ups.
Pikiranku mulai kacau, tak tau apa
yang terjadi. Bingung. Tak berapa lama sms dari Vian yang duduk agak jauh dari
aku muncul di layar hp ku.
Sari,
kamu ngerasa gak kalau anak-anak nyindir kita. Aku takut. Apa aku harus keluar
saja dari band ini. Aku gak mau jadi beban mereka.
Vian
Sms yang menyebalkan. Membuat aku
semakin bingung. Jauh lebih membingungkan dari soal Agama tadi pagi. Dalam hati
aku menjawab kenyataan bahwa mungkin aku yang akan keluar dari band ini. Cukup
aku yang keluar, bukan Vian. Cukup aku yang merasakan beban ini. Air mata ini
mulai tertahan di ujung mata ku. Menangis ? Gak, gak boleh !
Setelah beberapa hari tak ada titik
terangnya. Membuat semakin menyeramkan. Tiba-tiba ketika kita berdua latihan
untuk yang kesekian kalinya teman-teman d’meises meminta PJ alias Pajak Jadian
dengan senyum ke khasan mereka ber-empat. Dan ternyata mereka pun tak
mempermasahkan hubungan kita asalakan masih memengang keprofesionalan kita
ber-dua. Nah Loh, lega banget kan . Seneng deh pokoknya. Wow banget !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar