AKU, KAMU dan DIA
*Kriik
Cinta,
apalah arti cinta ketika kita belum mencoba mencari arti cinta sejati itu.
Ketika cinta itu berbentuk bibit, hingga bersemi menjadi sebuah kekuatan yang
tak kan terkalahkan walau badai terus mencoba menerjangnya. Hari ini sangat indah, melebihi keindahan pelangi
yang hanya mempunyai 7 warna bahkan
melebihi kecantikan 7 bidadari dari negeri kayangan karena hari ini
adalah hari ke-tiga jadianku bersama Vian.
Vian
seseorang yang teramat aku sayangi, bahkan aku cintai. Seorang yang merubah
hari-hari ku penuh warna, melebihi warna yang pernah di ciptakan di dunia ini.
Aku adalah Sari Andina yang akan
berikrar setia sehidup semati bersama Vian Adi Saputro, seseorang yang aku
kenal di awal aku duduk di bangku SMA kelas 2. Sebetulnya, aku dan Vian di
pertemukan dalam suatu tempat favoritku
sejak SMP, yaitu studio music. Kita berdua di pertemukan dalam satu komunitas
band. Jadi kesimpulannya CINLOK. Hehehe J
Di
tengah lamunan ku yang indah itu, tiba-tiba hp ku berdering membuyarkan
lamunanku. Dan ternyata itu sms dari Vian. Semangat 45 pun membara di dadaku.
Tapi.... oh tetapi.. Semangat 45 bak seorang pahlawan membela tanah air
tercinta ini menjadi kesuraman yang teramat dalam. Bagaimana gak suram ????
Sari, nanti aku sama Ninis ke rumah mu yah,
kita selesaiin masalah kita biar kita bisa tenang tanpa ada beban.
Vian
Cetar
membahana badai banget kan ?? Ninis adalah mantan Vian yang juga sayang sama
dia. Enak banget kan jadi Vian ? Disayangi 2 orang bookk. Ninis sebenarnya tak
mau putus dari Vian, tapi berhubung Vian nya udah kecantol, mau gimana lagi. Dan
bahkan Ninis juga mau di dua-in asalkan masih tetep sama sosok Vian yang super
nyebelin itu. Katanya, Vian dan Ninis itu dua sejoli yang udah di persatukan
sejak masa-masa akhir smp. Bisa bayangin kan gimana rasanya itu ? Huh, mungkin
aku adalah salah satu makhluk berdosa dibalik kehancuran mereka. Tapi apalah
daya ku ini, cinta merubah segalanya, cinta memang membutakan arah, rasanya
tersesat di kepulauan tak berpenghuni.
Sejujurnya
aku tak ada niat apa-apa sih, tak ada niat buat merubah keadaan mereka yang
dulunya reletionship with menjadi single, tak ada niat jahat sedikitpun pada
Ninis. Tapi kembali lagi pada suatu kata CINTA yang menyesatkan nurani ini.
Nah,
kembali ke *sms aku cukup tercengang ngelihat sms dari Vian, bingung ... serius
bingung mau bales gimana.
“Ya
Allah, aku memang pada posisi salah, tapi apa yang harus aku perbuat ?” Tanyaku
dalam hati.
Ok, aku tunggu di rumah jam 10.00 tepat !
Sari
Dengan
tangan gemetaran aku langsung mengklik
tombol sent yang ada di layar ku. Dan seketika itu aku terbaring lemas tak
berdaya seakan otot-otot ini tak kembali berfungsi. Hatiku mulai bertanya-tanya “Bagaimana dengan
nanti ? apa yang harus aku perbuat ? bagaimana nanti kalau Vian meninggalkan ku
dan memutuskan untuk kembali bersama Ninis. Arghtt !”
Jarum
jam berputar seakan akan dengan kecepatan tinggi seolah-olah seperti valentino
rossi sedang mengendarai motor nya dalam suatu pertandingan, nah bisa di
bayangkan betapa cepatnya tu ? *alay. Hahaha. Jarum pendek jam dari angka 8
kini jarum pendek jam itu pun singgah di angka 10.
“Haduh,
cepet amat sih ni jam, tiba-tiba udah jam 10 aja, gimana ini ?” Gerutuku sambil
membolak balikan badan di kasur ungu ku.
“Assalamualaikum...Assalamualaikum...Assalamualaikum.”
sambil terdengar ketokan pintu.
Mendengar
suara itu detak nadiku seolah-olah mulai berhenti. Ciyuss lemes banget deh.
Dengan Langkah yang sedikit tak berdaya aku mulai menuju sumber suara itu dan
membukakan pintu rumahku.
“Eh,
Vian, Ninis ayo masuk.” Celetukku sambil mempersilahkan mereka berdua masuk.
“
Iya Sar, makasih .” sambil memberikan senyuman yang manis-manis asem gitu.
Kami
bertiga duduk dengan ketegangan yang berbeda-beda, Ninis pun membuka pembicaraannya.
“Sar,
kamu kan cewe, pasti kamu tau apa yang aku rasaian ketika kamu berada di
posisiku. Aku cinta sama Vian, wajarlah aku sama Vian belum terikat sebuah
pernikahan, jadi Vian punya hak nentuin apa yang dia mau.” Dengan suara yang
tegas Ninis mengungkapkan apa yang ada di fikirannya
“Tapi
Nis, aku itu juga cinta banget sama Vian, mungkin malah ngelebihi cinta mu ke
dia. Kalau aku gak cinta, mungkin aku gak mau kayag gini Nis. Sekarang terserah
Vian saja bagaimana keputusannya.” Sambil menahan air mata yang ku tahan, aku
ungkapkan segala perasaan yang membelenggu ini.
Tiba-tiba
suara lantang nan tegas memecahkan keheningan dua bidadari ini.
“
Oke, AKU GAK PILIH SIAPA-SIAPA!” jawab Vian dengan raut muka yang semakin
kusut.
Kata-kata
itu ! Apa ini ? Tiba-tiba air
mataku bercucuran tanpa henti. Dan
tiba-tiba Vian menarik tangan Ninis untuk meninggalkan rumahku.
Oh..What
the hell ? Apa-apan ini ? Apa ??????




0 komentar:
Posting Komentar